» » KOLAT BAPOR LEM SPSI IKUT PECAHKAN REKOR MURI

KOLAT BAPOR LEM SPSI IKUT PECAHKAN REKOR MURI

Penulis By on Sabtu, 10 Februari 2018 | No comments

Pemecahan Rekor Muri dan Rekor Dunia
FSP LEM SPSI - Bogor Sabtu 10/2/2018 Sebanyak 1.000 Pesilat PPS Betako Merpati Putih  berhasil mencatat Rekor Muri dan rekor dunia dengan Pematahan gagang pompa Dragon terbanyak dalam ajang Kejuaraan Nasional VI Merpati Putih di Pusdikzi TNI AD, Jalan Sudirman No 35, Bogor Tengah, Kota Bogor, Jawa Barat.

Atraksi klosal ini melibatkan pesilat dari Seluruh Indonesia dan mancanegara termasuk dari Kolat BAPOR LEM SPSI Jakarta dan Bekasi yang mengirimkan pesilatnya untuk ikut serta dalam mensukseskan acara ini.

Sertifikat Rekor Muri ini diserahkan oleh perwakilan Muri, Bpk Ngaderi kepada Ketua Umum Pengurus Pusat PPS Betako Merpati Putih, Amos Priono Tri Nugroho. Pencatatan Rekor Muri ini merupakan bagian dari acara Pembukaan Kejurnas VI Merpati Putih oleh Ketua MPR.

Kolat Bapor Lem Spsi Bekasi
Ketua MPR, Zulkifli Hasan menuturkan sebagai warga negara yang baik, melestarikan budaya luhur di jamin oleh konstitusi, dalam undang undang dasar RI 1945 pasal 32 ayat 1.

"jika tidak ikut bertanggung jawab melestarikan merpati putih kita ini termasuk melanggar konstitusi, karena merpati putih merupakan Budaya Nasional," tandasnya.

Ketua Umum Pengurus Pusat Merpati Putih Amos Priono Tri Nugroho mengatakan, ajang ini adalah pembuktian jati diri Merpati Putih sebagai warisan budaya bangsa yang harus dilestarikan. Kejurnas ini, sebagai wadah mencari. bibit atlet berprestasi. Selain itu untuk menciptakan jenjang kompetisi prestasi yang sehat dan terukur bagi atlet Merpati Putih secara terpadu, mulai tingkat kelompok latihan, cabang, provinsi dan internasional.

Kolat Bapor Lem Spsi Dki
"Kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak atas bantuan dan doanya. Alhamdulillah Kejurnas VI Merpati Putih bisa terlaksana dengan baik,” papar pria yang akrab disapa Mas Amos ini"

Sedangkan Ketua Panitia Kejumas VI sekaligus Ketua Pengda Merpati Putih Jawa Barat, Yuwono Darpito Hudoyo menyatakan, kejurnas kali ini berbeda dengan kejurnas sebelumnnya. Karena lokasinya berada di Pusat Pendidikan Zeni TNI AD, seluruh atlet beserta official diterapkan sistem kedisiplinan ala militer. Atlet dan official di Kejumas VI ini semuannya terikat dengan aturan militer dan juga diterapkan jam malam serta bangun pagi.


"Tidak hanya kebiasaan tidur dan bangun tidur ala militer, namun juga makan pagi hingga malam ala militer. Setiap pesilat laga yang akan bertanding diseleksi terlebih dahulu dengan pematahan benda keras. Minimal mereka wajib mematahkan dua dari tiga sasaran yang ditentukan panitia. Ada yang menarik di Kejurnas kali ini, dimana wasit dan juri yang ditugaskan harus mengenakan pakaian khas Tradisional Jawa, yaitu pakaian Sorjan,"tegasnya.


Baca Juga Artikel Terkait Lainnya