» » Alasan Kebersihan dan UMP yang Tak Naik di Era Ahok-Djarot

Alasan Kebersihan dan UMP yang Tak Naik di Era Ahok-Djarot

Penulis By on Senin, 01 Mei 2017 | No comments


FSP LEM SPSI, Aksi ricuh di depan Balai Kota bukan tanpa alasan jelas. Mereka membakar karangan bunga karena kecewa dengan kepemimpinan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama-Djarot Syaiful Hidayat. LEM membakar karangan bunga pasangan yang dikenal Ahok-Djarot karena tidak memenuhi janji selama memimpin DKI Jakarta.

"Intinya LEM ini kecewa dengan kepemimpinan Ahok karena tidak sesuai janjinya dulu waktu dia terpilih sebagai wakil gubernur. Waktu dia (Ahok) terpilih, itu dia janji mau naikin UMP (Upah Minimum Provinsi) kita 4 juta. Sampai sekarang UMP baru 3,3," ujar Danil (35) salah satu anggota LEM SPSI di Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Senin (1/5/2017).

Danil mengatakan, UMP mereka masih di bawah UMP di daerah penyangga. "Di situlah kekecewaan kita. Bahkan UMSP (Upah Minimum Sektoral Provinsi) baru deal mau May Day ini setelah kita ancam-ancam," kata Danil.

Selain kecewa, motif mereka membakar karangan bunga lantaran kesal setiap kali buruh beraksi saat menginjak rumput atau mengotori Jakarta selalu diberitakan negatif, tetapi karangan bunga untuk Ahok malah diberitakan yang baik-baiknya saja.

"Pelampiasan kita bersihkan. Bunga-bunga ini tidak mencerminkan kebaikan," kata Danil.

Danil tidak mengetahui berapa banyak karangan bunga yang dibakar. Ia pun tidak mengetahui siapa saja yang membakar lantaran aksi tersebut sebagai aksi spontanitas.

"Tidak kita hitung. Itu tidak kita rencanakan. Kita bakar aja," kata Danil.


Baca Juga Artikel Terkait Lainnya